Reporter : KIM Melati
Sabtu, 30/01/2016
KRAKSAAN
– Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Probolinggo terus
bertambah. Tercatat hingga 25 Januari 2016, terjadi 31 kasus dengan 1
penderita meninggal dunia. Jumlah ini terbilang meningkat jika
dibandingkan dengan Desember 2014 yang hanya terjadi 4 kasus DBD.Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo dr Shodiq Tjahjono melalui Kasi Pengendalian Penyakit Wiwik Yuliati. Dikatakan jika dibandingkan dengan Januari 2015, jumlah ini terbilang menurun. “Pada waktu itu jumlah penderita DBD mencapai 144 kasus. Hanya saja tidak ada penderita yang sampai meninggal dunia,” katanya, Sabtu (30/1/2016).
Menyikapi kejadian ini, kata Wiwik, Dinkes mewaspadai DBD melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan melibatkan semua lintas sektor dan kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik). Di samping itu juga gerakan 3 M (Menguras, Menutup dan Mengubur).
“Satu-satunya upaya untuk memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti adalah dengan menggencarkan PSN. Sebab upaya ini ternyata paling efektif dan murah. Tetapi jika memenuhi prosedur kami juga akan melakukan fogging. Namun kami lebih mengedepankan PSN,” jelasnya.
Upaya lain adalah yang dilakukan Dinkes kata Wiwik adalah dengan juga mensosialisasikan satu rumah satu jumantik. Sehingga tidak hanya kader jumantik saja yang melakukan PSN, tetapi juga salah satu anggota keluarga dalam satu rumah juga bertugas memantau jentik nyamuk.
“Hingga saat ini di Kabupaten Probolinggo terdapat 1.958 kader Jumantik. Masing-masing kader memantau 20 rumah. Tentunya ini tidak maksimal. Oleh karena itu di setiap rumah harus ada satu Jumantik,” terangnya.
Menurut Wiwik, supaya tidak ada peningkatan kasus DBD, maka masyarakat harus berperan serta dalam melakukan PSN. “Selama ini masyarakat jika ada kasus DBD asumsinya langsung ke petugas kesehatan. Padahal masyarakat juga memiliki peran untuk ikut mencegah DBD melalui gerakan PSN,” pungkasnya
0 komentar:
Posting Komentar