Reporter : KIM Melati
Selasa 20/05/2015
KREJENGAN
- Pondok pesantren (ponpes) menjadi pilihan utama dari para orang tua
karena terjadi ketakutan akibat pergaulan anak yang saat ini sangat
mengkhawatirkan. Sehingga sudah saatnya pendidikan di ponpes tidak hanya
fokus kepada pendidikan agama dan mengaji saja, tetapi juga ada waktu
untuk ilmu bercocok tanam. Hal tersebut disampaikan anggota Komisi VIII DPR RI Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si saat menghadiri temu lapang kegiatan peningkatan teknologi informasi pertanian untuk menuju santri sehat dan mandiri di lingkungan pondok pesantren yang digelar Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Pertanian (BKP4) Kabupaten Probolinggo di Ponpes Miftahul Ulum Desa Jatiurip Kecamatan Krejengan, Senin (18/5).
“Karena sudah menjadi pilihan utama dari para orang tua, maka pondok pesantren harus berbenah dan berinovasi bagaimana waktu 24 jam ini dibagi antara tidur, mengaji, sekolah dan belajar ilmu bercocok tanam,” ujarnya.
Mantan Bupati Probolinggo ini menegaskan kepada para santri pondok pesantren agar jangan berfikir jika berdagang itu modal menjadi yang utama. Tetapi kembalilah kepada pembelajaran pondok pesantren bahwa modal utama usaha saat ini adalah jujur.
“Sebab produk-produk pabrikan saat ini membutuhkan orang jujur. Setelah itu baru bentuk jaringan usaha. Jika sudah demikian, maka perbankan dengan sendirinya akan mencarinya. Dengan kata lain, modal akan mengikuti setiap usaha yang dilakukan oleh orang jujur,” jelasnya.
Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan ini menegaskan supaya pendidikan di pondok pesantren tidak hanya fokus kepada pembelajaran dan penguasaan bahasa Arab saja. Pondok pesantren diminta juga memberikan pembelajaran bahasa China kepada santrinya. “Santri sudah harus mulai dilatih dengan bahasa China. Sebab beragam produk-produk dari luar dengan merk Made in China,” tegasnya.
Menurut suami Bupati Probolinggo ini, sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan menjadi prioritas pembangunan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Mindset ini dilakukan untuk mengembalikan jati diri bangsa Indonesia supaya petani tidak konsumtif.
“Supaya petani terus berinovasi mengembangkan teknologi pertaniannya, maka dibutuhkanlah Petugas Penyuluh Lapang (PPL). Demi memperkuat keberadaan PPL, maka harus dibentuk asosiasi demi memperjuangkan bagaimana petani bisa kembali ke era tahun 1970-an,” pungkasnya.
0 komentar:
Posting Komentar