Reporter : KIM Melati
Jum'at 31/07/2015
Salah satu petambak garam asal Desa Karanggeger, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, Rudi Haryanto mengaku mengalami kerugian signifikan akibat anjloknya harga. Hal itu terjadi lantaran permainan harga oleh tengkulak. “Mereka yang memainkan harga garam. Bisa naik, bisa turun,” ujarnya.
Pria 50 tahun ini mengungkapkan, harga garam tahun lalu berkisar Rp 600 ribu per ton. Namun tahun ini turun menjadi Rp 400 ribu per ton. Hal ini membuat petani garam mengalami kerugian besar. Selain karena harga garam yang turun, juga harus menanggung biaya operasional cukup besar.
Rincian biaya di antaranya, upah 10 pekerja di tambak yang dikelolanya. Mereka terdiri dari 10 orang yang dibagi menjadi empat kelompok. Tiap kelompok menangani pembuatan dan panen garam di 10 petak tambak garam. “Upah pekerja tergantung berapa banyak garam yang dihasilkan di petak yang ditanganinya,” jelasnya.
Tambak garam seluas 17 hektare yang dikelola Rudi ini terbagi menjadi 46 petak. Semuanya bisa dipakai dan masih produktif. Dalam semusim panen, seluruh lahan tersebut bisa menghasilkan rata-rata 100 ton. “Produksi saat ini sebenarnya bagus. Cuaca panas cukup mendukung. Tapi harganya yang merosot,” terangnya.
Kondisi tersebut berbeda dengan tahun lalu. Saat itu meski harganya Rp 400 ribu per ton, produksinya hanya sebanyak 80 ton saja. Garam hasil panen biasanya dibeli oleh tengkulak dari Kabupaten Lumajang. Biasanya juga dipasarkan ke kawasan Jember.
Di Kabupaten Probolinggo saat ini ada empat kecamatan sebagai penghasil garam. Empat kecamatan tersebut yakni Kecamatan Paiton, Kraksaan, Pajarakan dan Gending. Mereka tersebar di desa pesisir pantau utara. Seperti Desa Klaseman, Pajarakan, Sukokerto, Sidopekso, Kebonagung, Randutatah, Kalibuntu, Pajurangan dan Panambangan
0 komentar:
Posting Komentar